Oktober 7, 2026
WALIKOTA PSP

PRIMENEWS | Padangsidimpuan : Kemajuan sebuah daerah pada akhirnya tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya. Ada modal yang jauh lebih menentukan: kualitas sumber daya manusia (SDM).

Sumber daya alam yang melimpah tanpa ditopang manusia yang berkualitas berpotensi tidak memberikan manfaat optimal.

Sebaliknya, daerah yang terbatas sumber daya alamnya pun dapat tumbuh menjadi wilayah maju apabila memiliki SDM yang unggul, kreatif, dan mampu mengelola setiap peluang.

Singapura adalah salah satu contoh paling nyata. Negara kota itu tidak dikenal karena kekayaan sumber daya alamnya. Namun, dengan investasi serius pada manusia, pendidikan, teknologi, dan tata kelola, Singapura mampu menjelma menjadi salah satu pusat ekonomi penting dunia.

Perspektif semacam itulah yang kini menjadi salahsatu pijakan Wali Kota Padangsidimpuan, Letnan Dalimunthe, dalam membangun daerah yang dikenal sebagai salahsatu kota pendidikan di Sumatera Utara.

Bagi Letnan, mempertahankan Padangsidimpuan sebagai kota pelajar bukan sekadar mempertahankan sebuah predikat. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi jalan untuk menciptakan SDM yang kelak mampu mengangkat martabat dan perekonomian daerah.

Karena itu, perhatian terhadap mahasiswa, misalnya, menjadi salah satu bagian dari kebijakan yang didorong pemerintah kota. Dukungan berupa stimulus pendidikan diberikan secara by name by address, sehingga bantuan diarahkan kepada mahasiswa yang memang membutuhkan dan memenuhi ketentuan.

Di sisi lain, pembangunan kualitas pendidikan tidak berhenti pada persoalan bantuan kepada peserta didik. Letnan juga memberikan perhatian terhadap kualitas kepemimpinan di lingkungan sekolah.

Baginya, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat merupakan bagian penting dari membangun institusi pendidikan.

“The right man, the right place.”

Prinsip tersebut menjadi penting karena sekolah tidak hanya membutuhkan administrator, tetapi juga pemimpin yang mampu membaca perubahan, berpikir jauh ke depan dan memiliki keberanian membawa institusi pendidikan bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Namun, Letnan menyadari bahwa pemerintah kota tidak dapat bekerja sendirian. Pendidikan adalah urusan yang membutuhkan orkestrasi banyak pihak. Karena itu, sinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menjadi bagian penting dari strategi pembangunan pendidikan Padangsidimpuan.

Letnan bahkan memberikan apresiasi kepada Gubernur Sumatera Utara Bobby A. Nasution yang dinilainya memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur pendidikan.

Posisi pemerintah provinsi menjadi sangat strategis karena pendidikan tingkat SLTA merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Karena itu, bagi Pemerintah Kota Padangsidimpuan, komunikasi dan sinergi dengan Pemprov Sumut bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar pembangunan pendidikan dapat berjalan dalam satu irama.

Di luar pemerintahan, Letnan juga membuka ruang kolaborasi dengan para tokoh Padangsidimpuan dan berbagai paguyuban masyarakat asal daerah itu yang berada di perantauan.

Para perantau dipandang bukan sekadar orang-orang yang meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka adalah bagian dari modal sosial Padangsidimpuan.

Di tangan mereka terdapat pengalaman, jaringan, pengetahuan, dan sumber daya yang dapat dikontribusikan kembali untuk membangun kampung halaman.

Dari sinilah gagasan pembangunan SDM Padangsidimpuan menemukan spektrum yang lebih luas.

Pemerintah membangun ekosistemnya. Sekolah mencetak manusianya. Perguruan tinggi memperkuat kompetensinya. Dunia usaha menyediakan ruang aktualisasi. Sementara para alumni dan perantau dapat menjadi jembatan menuju dunia kerja dan jejaring yang lebih luas.

Obsesi Letnan pada akhirnya sederhana, tetapi memiliki makna strategis: Padangsidimpuan harus tetap menjadi kota pelajar, tetapi alumninya jangan hanya pandai mencari pekerjaan-mereka harus memiliki kompetensi yang membuat dunia kerja mencari mereka.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah kota pendidikan bukan hanya berapa banyak sekolah berdiri, berapa banyak mahasiswa yang kuliah, atau berapa banyak lulusan yang dihasilkan.

Ukuran yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah mereka lulus?

Apakah mereka terserap dunia kerja? Apakah mereka mampu menciptakan lapangan kerja? Apakah ilmu yang diperoleh kembali memberi manfaat bagi daerah?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui pembangunan pendidikan yang berorientasi pada kualitas SDM.

Pada titik ini, pendidikan bagi Padangsidimpuan bukan sekadar urusan ruang kelas. Ia adalah investasi jangka panjang.

Karena gedung dapat dibangun dalam hitungan tahun, jalan dapat diperbaiki dalam hitungan bulan, tetapi manusia unggul membutuhkan proses yang panjang.
Dan ketika manusia-manusia unggul itu lahir, mereka dapat menjadi kekuatan yang menggerakkan daerah jauh melampaui batas-batas kekayaan alam yang dimilikinya.

Itulah fondasi yang ingin ditanam Letnan Dalimunthe: membangun Padangsidimpuan bukan hanya dengan membangun kotanya, tetapi terutama dengan membangun manusianya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *