Maret 9, 2026
WhatsApp Image 2026-03-08 at 15.12.23

PRIMENEWS | Memasuki usia 17 tahun, kalau diibaratkan manusia berarti sudah memasuki usia menginjak dewasa dan sudah saatnya memiliki kartu tanda penduduk (KTP) sebagai legitimasi dan pengakuan bahwa usia 17 tahun memiliki keistimewaan. Sama halnya dengan sekolah Riad Madani yang bernaung dibawah Yayasan Pendidikan Riad Madani yang tahun ini memasuki usia 17 tahun (28 Februari 2009-28 Februari 2026), semakin memantapkan diri untuk terus berinovasi dalam menghasilkan lulusan berkarakter dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islami.

Di usia 17 tahun ini, Riad Madani mengusung tagline “Membumikan Nilai Islami, Melangitkan Prestasi, Membangun Peradaban Mulia untuk Indonesia”.

Menurut Ketua Yayasan Pendidikan Riad Madani Dra. Hj. Sukmawati Nasution didampingi Kepala Sekolah SD Ade Suhendra Wahyu Lubis, S.Pd, Kamis (5/3/2026), berdirinya sekolah ini pada awalnya hanya ingin menjawab keingingn masyarakat yang tinggal di kawasan Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Karena, pada awalnya banyak orang tua yang kesulitan untuk mendapatkan tempat belajar bagi anak-anak mereka.

Seiring waktu berjalan, lanjut Sukmawati Nasution sekolah yang pada awalnya dari PAUD atau Playgroup (PG), kemudian TK, SD, lanjut ke jenjang SMP dan semakin dilengkapi dengan berdirinya SMK. Ada juga MDTA, Rumah Tahfidz Al Qur’an, Day Care, Guest House dan Swimming Pool.

“Semua itu bisa terbentuk dan berjalan lancar berkat dukungan dari semua pengurus Yayasan Pendidikan Riad Madani, kepala sekolah semua tingkatan pendidikan, para guru dan pegawai serta dukungan dari orang tua murid,” katanya.

Perjalanan menapaki usia hingga 17 tahun, lanjut Sukmawati Nasution tidak semudah membalik tangan. Ada banyak tantangan dan banyak juga kemudahan yang dirasakan dengan tujuan tulus kita memajukan anak dan mendidik anak memiliki karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islami.

“Memasuki usia 17 tahun, kita tetap komitmen dan konsisten dengan tujuan awalnya, memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mendapatkan akses pendidikan mulai dari pendidikan usia dini sampai kepada pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah (SMP) hingga pendidikan menengah atas lewat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan konsentrasi teknologi informasi.

Tahun ajaran 2022/2023 lalu, sekolah Riad Madani telah melepas lulusan perdananya pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kalau pada jenjang pendidikan TK dan SD sudah melepas banyak lulusan.

Dalam sebuah kesempatan, penulis bertemu dengan beberapa mahasiswa yang ternyata adalah alumni dari YP Riad Madani dan saat ini sedang melanjutkan pendidikannya di UGM, UNPAD, IPB, USU, UNIMED, sekolah kedinasa dan perguruan tinggi bergengsi lainnya.

“Lulusan sekolah kita memang sudah banyak dan sudah tersebar ke berbagai sekolah (SMA,SMK dan sebagian sedang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi,” tandas Sukmawati yang juga pensiunan tenaga pendidik.

Sementara Kepala Sekolah SD Riad Madani Ade Suhendra Wahyu Lubis, S.Pd menceritakan bahwa konsep awal dari pendirian sekolah Riad Madani adalah untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ada di kawasan Percut Sei Tuan bisa sekolah dan tak perlu harus jauh dari tempat tinggal mereka.

“Setelah anak-anak bisa sekolah, maka tugas sekolah dan guru adalah bagaimana anak tersebut memiliki kemampuan dalam membaca, menulis dan berhitung berkolaborasi dengan orang tua siswa tentunya. Itu dulu konsep awalnya,” katanya.

Lalu kemudian, kata Ade setelah anak akrab dengan dunia pendidikan, mengenal sekolah dan sudah memiliki keinginan untuk belajar, maka tugas guru akan semakin berat, yaitu bagaimana mendidik anak menjadi insan yang cerdas, berkarakter dan memiliki kemampuan daya saing yang kuat.

“Ini bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang guru, terutama di era serba teknologi sekarang, dimana anak-anak sudah akrab dengan teknologi dan semua informasi bisa diakses dengan kemajuan teknologi tersebut. Di Riad Madani, kepada setiap guru diberi kesempatan untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuannya agar tidak hanya mengajar di kelas, tapi juga belajar untuk mendapatkan hal-hal baru dan pola ajar yang baru agar anak didik tidak mudah bosan,” jelasnya.

Dalam perjalanan Riad Madani menapaki usia hingga 17 tahun, kata Ade Sudendra Wahyu Lubis sudah banyak prestasi yang diukir oleh sekolah, guru dan murid. Prestasi akademik, prestasi ekstrakurikuler dan prestasi di bidang olahraga.

“Deretan prestasi itu tidak terlepas dari dukungan orang tua dan guru yang mengajar, semangat peserta didik yang pantang menyerah dan memiliki jiwa kompetisi akan menjadi bekal untuk bersaing dengan peserta lainnya,” katanya.

Satu hal penting dan menjadi budaya di sekolah Riad Madani, kata Sukmawati Nasution adalah dimana seluruh siswa setiap pagi sebelum pelajaran sekolah dimulai selalu diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan doa bersama.

Kemudian, lanjut Sukmawati Nasution peserta didik di Riad Madani diberikan kesempatan untuk memilih mau ikut ekstrakurikuler apa dan diberikan dukungan semangat untuk mengikuti berbagai kompetisi, seperti lomba melukis, lomba mewarnai, pertandingan futsal, catur, karate, bernyanyi serta kompetisi lainnya.

“Dengan mengikuti berbagai kompetisi, maka siswa kita akan dilatih untuk tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tapi juga kemampuan untuk berkompetisi dengan menjunjung tinggi sportifitas,” tandasnya.

Harapan kita di usia Riad Madani yang ke-17, program pembelajaran terus ditingkatkan, fasilitas pendukung semakin lengkap dan dukungan dari semua pihak ikut mendorong pencapaian tujuan Riad Madani dalam menghasilkan lulusan yang cerdas, berkarakter, berdaya saing dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *