Maret 26, 2026
Mendagri Tito

Jakarta : Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengungkapkan, lumpur dan tumpukan kayu masih menjadi kendala utama dalam pemulihan pascabencana di wilayah dataran rendah Sumatera.

Menurut Tito, lumpur menjadi persoalan paling dominan yang menghambat percepatan penanganan di sejumlah titik terdampak.

“Lumpur ini menjadi problem utama di wilayah dataran rendah. Kami mencatat ada sekitar 445 titik di tiga provinsi. Saat ini sekitar 84 persen sudah tertangani, tinggal 16 persen lagi,” ujar Tito dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026).

Ia menjelaskan, di sejumlah wilayah seperti Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Bireuen, proses pembersihan lumpur hampir rampung, meski pemerintah belum mengklaim selesai sepenuhnya.

“Di Aceh kira-kira tersisa 17 persen, terutama di Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Bireuen. Sudah hampir selesai, tapi kami belum ingin mengklaim tuntas,” katanya.

Selain lumpur, tantangan besar juga berasal dari sedimentasi sungai yang cukup parah. Tito menyebut normalisasi sungai membutuhkan waktu panjang.

“Sungai ini yang paling berat. Paling cepat dua tahun, bisa sampai tiga tahun atau lebih. Jumlahnya juga banyak, ada 79 sungai yang ditangani pemerintah pusat dan 43 oleh daerah,” jelasnya.

Ia menyoroti sejumlah sungai besar seperti Sungai Tamiang dan Sungai Merdu yang dipenuhi sedimen dan berpotensi meluap saat hujan.

“Kalau tidak dibersihkan, saat hujan akan mudah meluap dan menyebabkan banjir,” ungkap Tito.

Selain itu, tumpukan kayu akibat banjir juga menjadi persoalan serius karena menghambat proses pembersihan dan aktivitas warga.

“Tumpukan kayu banyak ditemukan di beberapa wilayah. Sebagian bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat seperti pembangunan hunian sementara maupun tetap,” tambahnya.

Di tengah berbagai kendala tersebut, pemerintah memastikan akses logistik mulai pulih, terutama pada jalur utama.

“Akses jalan nasional sudah 100 persen fungsional. Artinya bisa dilalui, meski di beberapa titik belum optimal untuk kendaraan besar. Namun distribusi logistik tidak lagi menjadi kendala,” ujarnya.

Tito merinci, kondisi jalan daerah di Aceh telah pulih 92 persen, Sumatera Utara 98 persen, dan Sumatera Barat 91 persen. Sementara itu, jembatan nasional sudah 100 persen berfungsi, meski sebagian masih bersifat sementara.

Untuk jembatan daerah, progres pemulihan masih bervariasi antara 54 hingga 93 persen. Pemerintah bersama TNI dan Polri terus mempercepat pembangunan infrastruktur yang tersisa.

“Dari rencana 41 jembatan, sebanyak 35 sudah selesai. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh pihak di lapangan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *