Oktober 17, 2026
Screenshot_2026-10-17-14-39-07-645-edit_com.whatsapp

PRIMENEWS | Jakarta : Petani belajar dari petani. Filosofi sederhana ini menjadi fondasi lahirnya Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S), sebuah gerakan yang tumbuh dari kesadaran petani untuk saling berbagi ilmu, pengalaman, dan teknologi. Kini, P4S menghadapi tantangan baru: bukan sekadar mencetak petani terampil, tetapi juga melahirkan wirausaha pertanian yang mandiri, modern, dan mampu menembus pasar global.

Ketua Umum Forum Komunikasi P4S Nasional, Andi Burhan Badurahman Abdullah, menegaskan bahwa P4S memiliki modal besar untuk mengambil peran strategis dalam transformasi pertanian Indonesia. Kekuatan itu terletak pada jaringan petani, pengalaman nyata di lapangan, dan model pembelajaran yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan usaha tani.

“P4S tidak boleh berhenti sebagai tempat pelatihan. Kita harus naik kelas menjadi pusat inovasi, kewirausahaan, dan pertumbuhan agribisnis. Petani bukan hanya harus mampu berproduksi, tetapi juga menguasai teknologi, membangun usaha, mengakses pasar, dan meningkatkan nilai tambah produknya,” ujar Burhan.

Berawal dari gagasan magang swadaya yang berkembang sejak era 1980-an, P4S membawa pendekatan berbeda dalam pengembangan sumber daya manusia pertanian. Jika penyuluhan formal kerap menghadapi keterbatasan jangkauan, P4S menawarkan pembelajaran langsung dari praktik petani maju, mulai dari lahan, proses produksi, hingga pengelolaan usaha.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan kelembagaan nasional. Melalui Forum Komunikasi P4S Nasional, para pengelola P4S didorong untuk memperkuat jejaring, meningkatkan mutu pelatihan, dan membangun kemitraan dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan pasar.
Menurut Burhan, kebutuhan petani masa kini juga semakin kompleks. Perubahan iklim, perkembangan teknologi, persaingan pasar, dan tantangan regenerasi menuntut petani memiliki kemampuan lebih dari sekadar budidaya.

Karena itu, P4S perlu bertransformasi menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan agribisnis. Di tempat inilah petani dapat mengembangkan kompetensi, menguji inovasi, mempelajari pertanian cerdas (smart farming), memperluas jaringan usaha, hingga menyiapkan produk untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Berdasarkan data yang disampaikan FK P4S Nasional, jaringan P4S mencakup 1.833 lembaga di 31 provinsi dan 331 kabupaten/kota, terdiri atas 880 P4S Pratama, 774 P4S Madya, dan 179 P4S Utama. Sebaran tersebut merupakan modal sosial dan ekonomi yang dapat dikonsolidasikan untuk mempercepat modernisasi pertanian dari tingkat akar rumput.

“Bayangkan jika ribuan P4S ini bergerak bersama. Kita memiliki jaringan pembelajaran yang dekat dengan petani, tersebar di berbagai daerah, dan berangkat dari pengalaman nyata. Kekuatan ini harus dihubungkan dengan teknologi, pembiayaan, industri, dan pasar,” kata Burhan.

Untuk mewujudkannya, FK P4S Nasional mengusung visi P4S yang maju, terakreditasi, dan berdaya saing global. Agenda pengembangannya mencakup regenerasi petani, penerapan smart farming, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, pengembangan pertanian berkelanjutan, perluasan kemitraan internasional, serta peningkatan kemampuan ekspor produk pertanian.

FK P4S Nasional juga mencanangkan lima program aksi prioritas 2026–2027, yakni penumbuhan 1.000 P4S baru, penguatan infrastruktur, sertifikasi kompetensi bagi 1.000 orang, pengembangan 20.000 hektare lahan melalui cetak sawah dan optimasi lahan, dan optimalisasi akses pasar global bagi produk pertanian unggulan P4S.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat empat transformasi utama: sumber daya manusia, teknologi, bisnis, dan kelembagaan. Petani muda diharapkan berkembang menjadi agripreneur; budidaya beralih menuju pertanian presisi berbasis data; produksi terhubung dengan pengolahan dan pemasaran digital; sementara P4S bergerak dari lembaga individual menjadi jaringan kemitraan agribisnis.

Dalam pelaksanaannya, sinergi dengan Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian dab berbagai mitra menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kapasitas dan jangkauan P4S.

Bagi Burhan, ukuran keberhasilan P4S pada akhirnya bukan semata-mata jumlah pelatihan yang diselenggarakan, melainkan perubahan nyata yang dirasakan petani: kompetensi meningkat, produktivitas membaik, usaha semakin kuat, generasi muda tertarik masuk ke sektor pertanian, dan produk mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Cita-cita kita adalah menjadikan P4S sebagai tempat lahirnya petani profesional sekaligus pengusaha pertanian. Dari petani, oleh petani, untuk negeri. Dengan kolaborasi dan inovasi, P4S harus ikut membangun pertanian Indonesia yang maju, mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” tutur Burhan.

Dari lahan percontohan hingga jejaring agribisnis, P4S kini memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar. Bukan hanya mewariskan pengetahuan dari satu generasi petani ke generasi berikutnya, melainkan juga menyiapkan pelaku pertanian yang mampu menjawab tantangan zaman dan menjadikan pertanian sebagai usaha yang menjanjikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *