Mei 12, 2026
Lapas Jaktim

PRIMENEWS | Jakarta : Kegiatan pembinaan di Lapas Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur, terus menunjukkan wajah pemasyarakatan yang semakin humanis. Melalui pelatihan membatik tulis dan merajut tas, misalnya, para warga binaan tidak hanya mengasah keterampilan, namun sekaligus sedang menata kembali masa depan mereka.

Di ruang membatik, canting yang bergerak di atas kain bukan sekadar menciptakan motif. Setiap goresan menjadi simbol keberanian para warga binaan untuk menulis ulang perjalanan hidup mereka setelah menjalani hukuman.
Aktivitas ini memberi ruang bagi mereka untuk kembali menggenggam asa yang mungkin pernah terputus.
Di sisi lain, kegiatan merajut tas menjadi medium pemulihan diri.

Micha, salah seorang warga binaan, mengakui bahwa dirinya sempat berada dalam kondisi frustasi ketika pertama kali masuk Lapas. Perasaan hampa perlahan terisi melalui aktivitas merajut yang ia ikuti. Program pembinaan yang kini gencar dilaksanakan Kementerian IMIPAS terbukti membantu warga binaan menemukan kembali harapan dan ketenangan.

Senada dengan Micha, Neneng, warga binaan lainnya, memilih mengikuti kelas membatik karena dirasa selaras dengan minatnya. Baginya, membatik bukan hanya soal keterampilan artistik, tetapi juga ruang untuk melukis masa depan.

Kalapas, Netty, menjelaskan bahwa pihaknya menjalankan program pembinaan yang memadukan kemandirian dan kepribadian. Berbagai pelatihan diberikan, mulai dari seni keterampilan, tata boga, hingga budidaya pangan seperti jamur, sayuran, dan ternak lele.

Program-program ini dirancang untuk membangun kemandirian warga binaan agar setelah bebas mereka memiliki keahlian tersertifikasi yang dapat digunakan untuk bekerja atau berwirausaha.

Netty menyampaikan bahwa proses penentuan peserta dilakukan melalui asesmen kemampuan dan minat. Setelah itu, Lapas menggandeng pihak ketiga yang kompeten untuk memberikan pelatihan profesional. Produk-produk karya warga binaan dipasarkan melalui berbagai saluran, termasuk dipamerkan di stan-stan Imigrasi dan kepada para pengunjung. Respons pasar sangat baik, terbukti dari meningkatnya pesanan yang disesuaikan dengan order pelanggan.

Dari hasil penjualan, warga binaan memperoleh premi yang ditabung dan dapat digunakan untuk kebutuhan di dalam Lapas. Seluruh transaksi dilakukan secara non-tunai mengikuti aturan bahwa uang tunai tidak diperbolehkan beredar di dalam lingkungan Lapas.

Dengan demikian, pembinaan tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga memberikan penghasilan yang bermakna bagi mereka.

Selain pembinaan kemandirian, Lapas Perempuan Pondok Bambu juga aktif menggelar program pembinaan kepribadian lintas iman. Warga binaan muslim mengikuti kegiatan pengajian, sementara mereka yang beragama nasrani mengikuti pembinaan gereja. Pendekatan ini diyakini memperkuat ketenangan batin dan menumbuhkan nilai-nilai positif.

Melalui rangkaian program ini, Lapas Perempuan Pondok Bambu menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pemasyarakatan yang lebih humanis dengan sentuhan keibuan. Di balik dinding Lapas, harapan itu sedang dirajut – setiap hari, melalui tangan-tangan yang kini kembali percaya pada masa depan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *