PRIMENEWS | POSO : Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Daerah Poso menggelar kunjungan wisata budaya dan religi ke dua situs sejarah penting di Kabupaten Poso pada Senin (11/5/2026).
Kegiatan ini menjadi simbol penguatan toleransi dan kerukunan antar umat beragama di wilayah Kabupaten Poso. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Ketua IAD Daerah Poso, Ny. Elsa Yos, dengan didampingi oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Poso, Yos A. Tarigan, SH, MH, M.IKom, selaku Pengawas IAD Daerah Poso.
Simbol Harmoni di Mapane dan Kasiguncu
Rombongan IAD Daerah Poso mengawali perjalanan di Masjid Al-Amin Mapane. Kehadiran mereka disambut hangat oleh pengurus masjid, Bapak Adnile.
Setelah itu, rombongan melanjutkan kunjungan ke situs sejarah GKST Jemaat Betesda Kasiguncu yang diterima langsung oleh Pdt. Ronald Mosianggi.
Dalam pertemuan di kedua lokasi tersebut, baik pengurus masjid maupun pendeta memaparkan sejarah panjang hubungan emosional yang erat antara komunitas Muslim di Mapane dan komunitas Kristen di Kasiguncu.
Jejak sejarah di kedua wilayah ini ditegaskan sebagai bukti nyata perdamaian dan keharmonisan yang telah terjalin selama berabad-abad.

Pesan Toleransi dan Kemanusiaan
Kajari Poso, Yos A. Tarigan, menekankan bahwa agenda ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual untuk menapak tilas peradaban di “Bumi Poso”.
“Kita melihat bagaimana fajar Kekristenan dimulai di Kasiguncu melalui pembaptisan pertama tahun 1909, dan bagaimana cahaya Islam masuk dengan damai melalui gerbang perdagangan di Mapane. Kita harus belajar dari sejarah perdamaian ini,” ujar Yos Tarigan dalam sambutannya.
Ia menambahkan, kunjungan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai toleransi dan wawasan kebangsaan bagi pengurus IAD.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan memperkuat perspektif humanitas (kemanusiaan) dalam penegakan hukum bagi seluruh insan Adhyaksa di lingkungan Kejari Poso.
Harapan untuk IAD Poso
Sebagai Pengawas IAD, Yos Tarigan berharap kegiatan edukatif ini mampu memberikan dampak mendalam. Beliau mendorong agar anggota IAD tidak hanya berperan sebagai pendukung kerja Jaksa, tetapi juga menjadi “Duta Kerukunan” di tengah masyarakat.
“Harapan saya, dengan melihat langsung bukti sejarah toleransi ini, IAD Daerah Poso semakin memperkuat persaudaraan internal dan meneladani nilai Sintuwu Maroso. Jadikan ini inspirasi untuk terus melakukan aksi sosial yang merangkul semua pihak, menjaga kedamaian, dan mencintai Bumi Poso setulus hati,” pungkasnya.
