PRIMENEWS | Jakarta : Semangat kebersamaan anak rantau kembali menemukan wadahnya. Parsadaan IKA Haltim (Ikatan Keluarga Asal Halongonan Timur) resmi berdiri pada Minggu, 14 Februari 2026 di wilayah Jabodetabek. Kelahiran paguyuban yang bernaung di bawah DPP Parsadaan Padang Lawas Utara (ParPaluta) ini menjadi penanda kuat bahwa ikatan kekerabatan, nilai adat, dan kecintaan terhadap kampung halaman tetap hidup dan tumbuh, meski terpisah oleh jarak.
Deklarasi ini dihadiri para pembina, hatobangon dan anggota dari berbagai latar belakang. Kepengurusan IKA Haltim diisi oleh sosok-sosok yang dipercaya membawa arah organisasi, dengan H. Parondingan Siregar, SH sebagai Ketua, Ishak Harahap, SH sebagai Sekretaris, dan H. Ali Aman Siregar sebagai Bendahara.
Sementara itu, peran pembina dan penasehat diemban oleh H. Mara Sakti Harahap dan H. dr. Madayan Harahap.

IKA Haltim hadir dengan visi besar: mewujudkan masyarakat yang berbudaya, menjunjung tinggi nilai adat istiadat dan menjaga kepribadian luhur warisan nenek moyang. Misi yang diemban tidak kalah penting, yakni menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap adat kepada generasi muda, sekaligus menjadikan budaya sebagai landasan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah dinamika perantauan, IKA Haltim membawa semangat falsafah daerah yang sarat makna: “Itte disiriaon, tangi di siluluton” – hadir dalam duka tanpa diundang, dan memenuhi undangan dalam suka dengan penuh hormat. Nilai ini menjadi fondasi dalam membangun interaksi sosial yang elegan, harmonis, dan saling menguatkan.
Ketua IKA Haltim menegaskan bahwa paguyuban ini tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi ruang untuk merawat nilai-nilai luhur melalui prinsip Dalihan Na Tolu: manat-manat markahanggi, hormat marmora, dan elek maranakboru. Falsafah ini menjadi panduan dalam menjalin hubungan yang berimbang, penuh hormat, dan berkeadaban di tengah kehidupan masyarakat rantau.
Sebagai organisasi yang berakar dari kecintaan terhadap tanah asal, IKA Haltim juga mematrikan komitmen untuk terus terhubung dengan kampung halaman. Ikatan ini mencakup desa-desa seperti Siancimun, Situmbaga, Bolatan, Pasir Bara, Gunung Intan, Mompang I, Gunung Manaon III, Sihopuk Baru, Sihopuk Lama, Rondaman, Huta Baru Nangka, hingga Batang Pane I, II, dan III. Keterhubungan ini bukan sekadar emosional, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian nyata terhadap pembangunan dan kesejahteraan daerah asal.
Petuah leluhur “manjappal tu balian, mangalngei tu bagasan” menjadi pengingat bahwa keberhasilan di perantauan harus diiringi dengan kontribusi bagi kampung halaman. Semangat ini diperkuat dengan filosofi lain, “tappal marsipagodangan, udut marsipaginjangan”, yang mengajarkan pentingnya saling membesarkan, saling mendukung, dan saling peduli antar sesama.
Keanggotaan IKA Haltim yang beragam – mulai dari TNI/Polri, dokter, konsultan hukum, pelaku usaha, birokrat, politisi, akademisi, jurnalis, hingga tokoh adat menjadi kekuatan tersendiri dalam menggerakkan organisasi. Keberagaman ini justru memperkaya perspektif dan memperluas kontribusi bagi sesama.
Kehadiran IKA Haltim menjadi bukti bahwa di tengah modernitas dan mobilitas tinggi, nilai adat dan budaya tetap memiliki tempat yang kuat. Di tangan para perantau, warisan leluhur tidak hanya dijaga, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk interaksi sosial yang elegan, bermartabat, dan penuh makna.
