Agustus 31, 2026
TRI WAHYUDI

Tri Wahyudi Saleh menyatu dengan dunia pangan. Dengan kata lain, sektor pangan tidak pernah jauh dari langkahnya. Dari dunia pertanian, Bulog, industri pupuk, hingga kebijakan perberasan nasional, jejak karier Tri selalu bersinggungan dengan satu urusan besar: bagaimana pangan Indonesia tersedia, terjangkau, dan mampu memberi kesejahteraan kepada petani.

Kini, ketika usianya memasuki 58 tahun dan masih dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Manajemen Aset PT Pupuk Indonesia (Persero), Tri kembali menunjukkan bahwa perhatian terhadap pangan tidak berhenti karena jabatan.

Ia justru membawa kegelisahan tentang pangan itu ke ruang akademik. Dalam Sidang Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri), Rabu (26/8), Tri mempertahankan disertasinya yang berjudul “Integrasi Kebijakan Perberasan Hulu ke Hilir Guna Menyusun Rekomendasi Kebijakan Perberasan Terpadu di Indonesia.”

Dari judulnya saja sudah terlihat ke mana pikirannya bermuara: pangan. Lebih khusus lagi, beras—komoditas yang bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi menyangkut kehidupan jutaan masyarakat Indonesia.

Sidang doktor yang berlangsung sekitar dua jam di FH Tower Unsri itu akhirnya mengantarkan Tri meraih gelar Doktor Ilmu Pertanian dengan predikat Cumlaude, atau dengan pujian. Ia menjadi doktor Ilmu Pertanian ke-165 Unsri dengan masa studi tiga tahun satu bulan dan IPK sempurna 4,00.

Sidang tersebut juga menghadirkan penguji tamu yang tidak asing di tingkat nasional, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan RI. Kehadiran Dudung menambah bobot sidang terbuka tersebut, terutama dalam menguji gagasan Tri mengenai integrasi kebijakan perberasan dan ketahanan pangan nasional.

Namun, bagi Tri, gelar doktor agaknya bukan sekadar tambahan gelar di belakang nama. Disertasinya justru memperlihatkan sesuatu yang lebih penting: kegelisahan seorang praktisi pangan terhadap bagaimana kebijakan perberasan Indonesia selama ini berjalan.

Dari lapangan ke ruang akademik

Tri bukan orang yang datang ke dunia pangan hanya dari ruang kuliah. Ia pernah berada di dalam denyut pengadaan dan distribusi pangan melalui perjalanan panjangnya di Perum Bulog. Kariernya di lembaga tersebut dimulai pada 1997 sebagai staf di Jawa Barat dan kemudian berkembang hingga menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk Direktur Operasional dan Pelayanan Publik serta Direktur Pengadaan dan Komersial.

Pada Agustus 2020, ia dipercaya menjadi Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang. Dari pupuk, ia kembali bersentuhan langsung dengan hulu pangan. Sebab, bicara produksi beras tidak mungkin mengabaikan pupuk, petani, produktivitas lahan, distribusi, hingga harga gabah dan beras.

Kariernya kemudian berlanjut di PT Pupuk Indonesia. Pada November 2023 ia dipercaya sebagai Direktur Pemasaran, sebelum sejak Juni 2025 menjabat Direktur Manajemen Aset.

Jadi, kalau kemudian Tri berbicara tentang perlunya integrasi kebijakan perberasan dari hulu sampai hilir, itu bukan semata-mata suara seorang akademisi.

Ada pengalaman panjang seorang praktisi di baliknya.
Pangan jangan dikerjakan sendiri-sendiri. Di sinilah inti pemikiran Tri dalam disertasinya.

Menurutnya, persoalan perberasan nasional salah satunya terletak pada kebijakan yang masih terfragmentasi. Banyak lembaga bekerja dengan kewenangan masing-masing, tetapi belum sepenuhnya berada dalam satu orkestrasi yang sama.
Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional, Bulog dan berbagai aktor lainnya memiliki peran masing-masing.

Masalahnya, pangan adalah satu ekosistem. Petani menanam hari ini untuk kebutuhan masyarakat beberapa bulan kemudian. Pupuk menentukan produktivitas. Harga gabah menentukan pendapatan petani. Stok menentukan ketahanan pangan. Distribusi menentukan harga di pasar. Sementara konsumen membutuhkan beras dengan harga yang terjangkau.

Semuanya saling terhubung.

Karena itu, menurut Tri, kebijakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dan Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak boleh berjalan seperti gerbong yang masing-masing mempunyai lokomotif sendiri.
Harus ada orkestrasi.

Penelitian Tri melibatkan 418 responden, terdiri dari petani, konsumen dan pemangku kebijakan. Ia menggunakan pendekatan Social Network Analysis (SNA) dan Structural Equation Modeling (SEM).

Dari penelitian itu, ia menemukan bahwa fragmentasi kelembagaan masih menjadi persoalan penting dalam implementasi kebijakan perberasan. Sederhananya, kebijakan pangan tidak cukup hanya bagus di atas kertas.
Ia harus nyambung sampai sawah.

Enam gagasan untuk pangan Indonesia

Dari penelitian tersebut, Tri menawarkan enam rekomendasi.
Pertama, penguatan koordinasi lintas sektor, sehingga ego sektoral tidak mengalahkan kepentingan pangan nasional.
Kedua, harmonisasi regulasi dari hulu hingga hilir, terutama terkait HPP, HET dan CBP agar petani tetap mendapatkan insentif dan konsumen tetap terlindungi.

Ketiga, penguatan kelembagaan adaptif, dengan mengoptimalkan lembaga yang sudah ada tanpa harus terus menambah birokrasi baru.

Keempat, membangun sistem informasi pangan secara real-time, sehingga pemerintah memiliki pusat data yang lebih terpadu untuk membaca kondisi produksi, pasokan dan pasar.

Kelima, membuat kebijakan yang lebih sensitif terhadap kondisi sosial, ekologis dan politik, termasuk kemampuan petani menghadapi perubahan iklim.

Keenam, meningkatkan kapasitas aktor lokal, termasuk Gapoktan serta BUMD dan BUMN pangan di daerah sebagai ujung tombak pelaksanaan kebijakan.

Enam rekomendasi tersebut menunjukkan satu benang merah: pangan tidak bisa diselesaikan secara parsial.

Doktor dengan Pengalaman Panjang di Belakangnya

Menariknya, perjalanan akademik Tri justru berlangsung ketika kesibukan profesionalnya sedang tinggi-tingginya.
Ia mengawali pendidikan dari SPMAN atau SMK Pertanian Yogyakarta dan lulus pada 1986. Kemudian menempuh Sarjana Biologi di Universitas Nasional Jakarta dan Magister Manajemen Agribisnis di Institut Pertanian Bogor.

Perjalanan menuju doktor dimulai beberapa bulan sebelum masa jabatannya sebagai Direktur Utama Pusri berakhir pada Juli 2023.

Ada ajakan dari Prof. Anis Saggaff, yang ketika itu menjabat Rektor Unsri, agar Tri melanjutkan pendidikan di Palembang.
Ajakan itu diterimanya.

Tri bahkan tidak datang sendirian. Beberapa karyawan Pusri juga ia dorong melanjutkan pendidikan. Mereka bahkan menyelesaikan studi lebih dahulu.

Di tengah jadwal sebagai direksi BUMN yang padat dan aktivitas pekerjaan di Jakarta, Tri tetap berusaha mengikuti proses akademiknya di Unsri.

Prof. Anis Saggaff menyebut Tri sebagai sosok yang pintar, cerdas dan memiliki etika yang baik. Tetapi mungkin ada satu hal lain yang membuat perjalanan doktor Tri menjadi menarik.

Ia tidak mengambil tema yang jauh dari kehidupannya.
Ia memilih pangan. Ia memilih beras. Ia memilih persoalan yang selama puluhan tahun bersentuhan dengan perjalanan profesionalnya.

Perjalanan Tri Wahyudi Saleh bukan semata tentang seorang direktur BUMN yang berhasil meraih gelar doktor dengan IPK 4,00. Lebih dari itu, ada pesan yang menarik.

Bahwa mengabdi kepada pangan tidak selalu harus dilakukan dengan mencangkul sawah atau berdiri di tengah gudang beras.

Bisa juga dengan menghadirkan gagasan. Bisa dengan mengkritisi kebijakan. Bisa dengan meneliti apa yang selama ini belum terhubung. Dan bisa pula dengan menawarkan jalan keluar.

Tri sudah melewati berbagai ruang dalam ekosistem pangan, dari Bulog, pupuk, hingga manajemen BUMN. Kini ia menambahkan satu ruang lagi: akademik.

Dari ruang itulah ia menyumbangkan enam gagasan untuk memperkuat kebijakan perberasan nasional.

Barangkali karena itu, pangan bagi Tri bukan sekadar pekerjaan. Pangan adalah lintasan panjang pengabdian.
Dan setelah meraih gelar doktor, perjalanan pemikiran itu tampaknya belum selesai.

Sebab Indonesia masih membutuhkan orang-orang yang tidak pernah lelah memikirkan bagaimana petani bisa sejahtera, produksi meningkat, distribusi berjalan, harga terkendali, dan masyarakat mendapatkan pangan yang cukup.

Tri Wahyudi Saleh memilih untuk terus berada di jalur itu.
Dari sawah ke kebijakan, dari Bulog ke pupuk, dan kini dari pengalaman ke ruang akademik—pangan tetap menjadi benang merah perjalanan hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *