Gelombang PHK Melanda Industri Penerbangan Eropa

0
102

PRIMENEWS-London : Tak hanya perusahaan dan industri manufaktur yang terkena imbas, maskapai penerbangan di seluruh dunia mulai mengalami kondisi menyakitkan akibat pagebluk virus corona.

Sejalan dengan prospek pemulihan yang cepat dari wabah virus corona, maskapai mulai memangkas bisnis mereka.

Dilansir dari CNN, Minggu (3/5/2020), pada pekan ini saja, sejumlah maskapai penerbangan terkemuka Eropa menyatakan bakal melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap puluhan ribu pegawai.

Hal ini disebabkan maskapai-maskapai harus memangkas biaya akibat lesunya outlook bisnis penerbangan untuk jangka menengah.

Maskapai Ryanair, Lufthansa, British Airways, Scandinavian Airlines, dan Air France-KLM ditaksir dapat melakukan PHK terhadap 32.000 pegawai. Sejumlah maskapai lainnya di kawasan Eropa diprediksi bakal menyusul.

“Kita menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah. Kita berjuang untuk masa depan perusahaan ini dan masa depan 130.000 pegawai Lufthansa Group,” kata CEO Lufthansa Carsten Spohr.

Lufthansa Group sudah mengurangi jam kerja terhadap 80.000 pegawainya. Selain itu, jadwal penerbangan pun dipangkas secara drastis, hingga mencapai level terendah sejak tahun 1955.

Selain itu, kata Spohr, sebanyak 3.000 penerbangan harian Lufthansa Group sudah dibatalkan. Pun sebanyak 92 persen armada grup maskapai penerbangan asal Jerman tersebut tidak terbang.

“Ini amat sangat getir, menyakitkan, dan memilukan,” ungkap Spohr.

Dalam kondisi tidak ada penerbangan domestik apalagi internasional dan tidak ada kejelasan kapan permintaan akan kembali, hampir tidak mungkin krisis keuangan dielakkan oleh maskapai.

British Airways mengumumkan bakal memangkas sekira 12.000 orang pegawainya. Selain itu, Ryanair pada Jumat (1/5/2020) mengumumkan PHK terhadap 3.000 orang pegawainya.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memprediksi pendapatan penerbangan komersial global anjlok 55 persen pada tahun ini. Angka itu setara 314 miliar dollar AS atau sekira Rp 4.760 triliun (kurs Rp 15.161 per dollar AS).

Beberapa maskapai utama di Eropa dan Amerika Serikat pun telah meminta dana talangan dari pemerintah setempat.

Lufthansa Group, yang memiliki maskapai penerbangan di Jerman, Swiss, Austria, dan Belgia tengah dalam pembicaraan intensif dengan pemerintah Jerman terkait dukungan keuangan.

Spohr menyebut, pihaknya telah menerima dana bantuan dari pemerintah Swiss dan dalam negosiasi dengan pemerintah Austria dan Belgia.

“Masa depan Lufthansa saat ini sedang ditentukan. Pertanyaannya, apakah kita bisa menghindari kebangkrutan dengan bantuan dari pemerintah empat negara operasional,” terang Spohr.

Awan gelap akibat virus corona juga menyelimuti pabrikan pesawat dan bandara. Pabrikan pesawat Boeing pada pekan ini mengumumkan 16.000 pegawai dan kerugian sebesar 1,7 miliar dollar AS pada kuartal I 2020.

Sementara itu, Airbus merumahkan sementara lebih dari 6.000 pegawainya. CEO Airbus Guillaume Faury pun menyebut, kondisi keuangan pabrikan pesawat itu tengah berdarah-darah lantaran maskapai menunda atau membatalkan pesanan pesawat baru.

Bandara terbesar di Eropa, yakni Bandara Heathrow di London, Inggris pada Jumat melaporkan kerugian sebesar 441 juta dollar AS atau setara sekira Rp 6,6 triliun pada kuartal I 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here