September 20, 2026
KTNA BATU MALANG 1

PRIMENEWS | Batu : Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional yang digelar di Aula Gedung Among Tani Balai Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 19–20 September 2026, diharapkan tidak berhenti pada agenda pergantian kepengurusan organisasi. Forum lima tahunan tersebut menjadi momentum untuk menatap masa depan pertanian Indonesia yang lebih cerah, modern, berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketua KTNA Jawa Timur, Sumrambah, mengatakan Rembug Paripurna KTNA Nasional menjadi ruang penting bagi para pelaku pertanian dari berbagai daerah untuk memperkuat kelembagaan sekaligus merumuskan arah perjuangan petani ke depan.

“Dengan penguatan kelembagaan KTNA secara nasional, tentunya akan berimplikasi positif bagi petani. Kelembagaan petani menjadi daya dukung dan daya juang petani dalam membangun kekuatan pertanian kita ke depan,” ujar Sumrambah pada program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay di sela acara Rembug tersebut, Sabtu (19/9/2026).

Menurutnya, Batu dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Kota yang dikenal sebagai Kota Bunga itu juga memiliki ekosistem pertanian yang relatif lengkap, mulai dari bunga, anggrek, sayuran, kentang, wortel, hingga apel. Kawasan Batu dan sekitarnya juga terhubung dengan sentra produksi pertanian dan peternakan seperti Pujon dan wilayah Malang lainnya.

Potensi tersebut, kata Sumrambah, memperlihatkan bahwa pertanian dapat berjalan beriringan dengan sektor lain, termasuk pariwisata. Konsep agrowisata dapat menjadi contoh bagaimana hasil pertanian tidak hanya diproduksi, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman wisata yang memberikan nilai tambah bagi petani.

“Bagaimana memaketkan wisata dengan pertanian. Itu yang dilakukan Pemerintah Kota Batu. Mudah-mudahan bisa ditularkan dan menginspirasi daerah-daerah lain,” katanya.

Namun, Sumrambah melihat tantangan pertanian Indonesia ke depan bukan semata-mata persoalan produksi. Modernisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar sektor pertanian semakin menarik bagi generasi muda.

Ia menilai citra lama bahwa petani identik dengan pekerjaan berat, kotor, dan berpenghasilan rendah harus mulai ditinggalkan. Pertanian, menurutnya, harus dikembangkan dengan teknologi, ilmu pengetahuan dan pola usaha yang mampu memberikan keuntungan lebih baik.

Salahsatu contoh yang ia ceritakan adalah seorang petani muda asal Jombang bernama Ivan. Dengan menerapkan pola budidaya yang lebih baik, Ivan mampu menghasilkan sekitar 13,5 ton padi per hektare, sementara produktivitas di lingkungan sekitarnya berada di kisaran 7 ton per hektare.

“Ini yang menjadi contoh. Ketika petani muda bisa menghasilkan lebih banyak dengan cara yang lebih modern dan berbasis ilmu pengetahuan, maka pertanian memberikan harapan baru,” ujar Sumrambah.

Menurutnya, keberhasilan petani seperti Ivan dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai profesi yang menjanjikan. Ketika pendapatan meningkat, pertanian tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, tetapi dapat menjadi pilihan pekerjaan yang memiliki masa depan.

“Bagaimana kita mengajak anak-anak muda ini terjun ke sektor pertanian. Kita tidak ingin terjadi putusnya regenerasi petani,” katanya.

Sumrambah mengingatkan, persoalan regenerasi petani bukan isu kecil. Ia mengaku dalam berbagai kesempatan bertemu petani di Jawa Timur, masih menemukan kenyataan bahwa banyak orang tua yang berprofesi sebagai petani justru tidak bercita-cita anaknya mengikuti jejak mereka.

Karena itu, pertanian harus dikemas dengan pendekatan baru. Teknologi dan ilmu pengetahuan harus masuk ke lahan pertanian agar anak muda melihat bahwa bertani juga dapat dilakukan secara modern, presisi, produktif dan menguntungkan.

“Kini pemerintah sudah gencar mengemas pertanian dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga anak muda sudah banyak mau kembali ke sektor pertanian. Yang terpenting adalah memberikan harapan,” tegasnya.

Di sisi lain, Sumrambah menegaskan bahwa KTNA akan terus menempatkan kepentingan petani sebagai fokus utama. KTNA, menurutnya, merupakan organisasi yang lahir dari pelaku pertanian dan memiliki mekanisme kaderisasi berjenjang.

Karena itu, keberadaan KTNA diharapkan tetap menjadi ruang berhimpun bagi para pelaku pertanian sekaligus mitra strategis pemerintah. Kemitraan tersebut bukan berarti KTNA harus selalu berada dalam posisi membenarkan kebijakan pemerintah, melainkan memberikan masukan berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi petani di lapangan.

“Kita bermitra dengan pemerintah, tetapi bukan berarti tidak mengkritisi pemerintah. Kita tetap memberikan masukan-masukan positif karena kita adalah pelaku di bawah. Problematika pertanian ada, kita dengar dan kita lihat,” ujarnya.

Rembug Paripurna KTNA Nasional di Batu sendiri menjadi forum untuk memilih Ketua Umum dan kepengurusan KTNA periode 2026–2031 sekaligus membahas berbagai agenda organisasi. Forum tersebut diikuti pengurus dan perwakilan KTNA dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Sumrambah, apa pun hasil Rembug KTNA Nasional nantinya, yang paling penting adalah bagaimana organisasi tersebut semakin kuat dalam memperjuangkan kepentingan petani.

Sebab, masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luasnya lahan dan besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan petani yang berpengetahuan, menguasai teknologi, memperoleh pendapatan yang layak dan mampu menarik generasi muda untuk melanjutkan profesi tersebut.

Dari KPRIMENEWS | Batu : Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional yang digelar di Aula Gedung Among Tani Balai Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 19–20 September 2026, diharapkan tidak berhenti pada agenda pergantian kepengurusan organisasi. Forum lima tahunan tersebut menjadi momentum untuk menatap masa depan pertanian Indonesia yang lebih cerah, modern, berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketua KTNA Jawa Timur, Sumrambah, mengatakan Rembug Paripurna KTNA Nasional menjadi ruang penting bagi para pelaku pertanian dari berbagai daerah untuk memperkuat kelembagaan sekaligus merumuskan arah perjuangan petani ke depan.

“Dengan penguatan kelembagaan KTNA secara nasional, tentunya akan berimplikasi positif bagi petani. Kelembagaan petani menjadi daya dukung dan daya juang petani dalam membangun kekuatan pertanian kita ke depan,” ujar Sumrambah pada program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay di sela acara Rembug tersebut, Sabtu (19/9/2026).

Menurutnya, Batu dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Kota yang dikenal sebagai Kota Bunga itu juga memiliki ekosistem pertanian yang relatif lengkap, mulai dari bunga, anggrek, sayuran, kentang, wortel, hingga apel. Kawasan Batu dan sekitarnya juga terhubung dengan sentra produksi pertanian dan peternakan seperti Pujon dan wilayah Malang lainnya.

Potensi tersebut, kata Sumrambah, memperlihatkan bahwa pertanian dapat berjalan beriringan dengan sektor lain, termasuk pariwisata. Konsep agrowisata dapat menjadi contoh bagaimana hasil pertanian tidak hanya diproduksi, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman wisata yang memberikan nilai tambah bagi petani.

“Bagaimana memaketkan wisata dengan pertanian. Itu yang dilakukan Pemerintah Kota Batu. Mudah-mudahan bisa ditularkan dan menginspirasi daerah-daerah lain,” katanya.

Namun, Sumrambah melihat tantangan pertanian Indonesia ke depan bukan semata-mata persoalan produksi. Modernisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar sektor pertanian semakin menarik bagi generasi muda.

Ia menilai citra lama bahwa petani identik dengan pekerjaan berat, kotor, dan berpenghasilan rendah harus mulai ditinggalkan. Pertanian, menurutnya, harus dikembangkan dengan teknologi, ilmu pengetahuan dan pola usaha yang mampu memberikan keuntungan lebih baik.

Salahsatu contoh yang ia ceritakan adalah seorang petani muda asal Jombang bernama Ivan. Dengan menerapkan pola budidaya yang lebih baik, Ivan mampu menghasilkan sekitar 13,5 ton padi per hektare, sementara produktivitas di lingkungan sekitarnya berada di kisaran 7 ton per hektare.

“Ini yang menjadi contoh. Ketika petani muda bisa menghasilkan lebih banyak dengan cara yang lebih modern dan berbasis ilmu pengetahuan, maka pertanian memberikan harapan baru,” ujar Sumrambah.

Menurutnya, keberhasilan petani seperti Ivan dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai profesi yang menjanjikan. Ketika pendapatan meningkat, pertanian tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, tetapi dapat menjadi pilihan pekerjaan yang memiliki masa depan.

“Bagaimana kita mengajak anak-anak muda ini terjun ke sektor pertanian. Kita tidak ingin terjadi putusnya regenerasi petani,” katanya.

Sumrambah mengingatkan, persoalan regenerasi petani bukan isu kecil. Ia mengaku dalam berbagai kesempatan bertemu petani di Jawa Timur, masih menemukan kenyataan bahwa banyak orang tua yang berprofesi sebagai petani justru tidak bercita-cita anaknya mengikuti jejak mereka.

Karena itu, pertanian harus dikemas dengan pendekatan baru. Teknologi dan ilmu pengetahuan harus masuk ke lahan pertanian agar anak muda melihat bahwa bertani juga dapat dilakukan secara modern, presisi, produktif dan menguntungkan.

“Kini pemerintah sudah gencar mengemas pertanian dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga anak muda sudah banyak mau kembali ke sektor pertanian. Yang terpenting adalah memberikan harapan,” tegasnya.

Di sisi lain, Sumrambah menegaskan bahwa KTNA akan terus menempatkan kepentingan petani sebagai fokus utama. KTNA, menurutnya, merupakan organisasi yang lahir dari pelaku pertanian dan memiliki mekanisme kaderisasi berjenjang.

Karena itu, keberadaan KTNA diharapkan tetap menjadi ruang berhimpun bagi para pelaku pertanian sekaligus mitra strategis pemerintah. Kemitraan tersebut bukan berarti KTNA harus selalu berada dalam posisi membenarkan kebijakan pemerintah, melainkan memberikan masukan berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi petani di lapangan.

“Kita bermitra dengan pemerintah, tetapi bukan berarti tidak mengkritisi pemerintah. Kita tetap memberikan masukan-masukan positif karena kita adalah pelaku di bawah. Problematika pertanian ada, kita dengar dan kita lihat,” ujarnya.

Rembug Paripurna KTNA Nasional di Batu sendiri menjadi forum untuk memilih Ketua Umum dan kepengurusan KTNA periode 2026–2031 sekaligus membahas berbagai agenda organisasi. Forum tersebut diikuti pengurus dan perwakilan KTNA dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Sumrambah, apa pun hasil Rembug KTNA Nasional nantinya, yang paling penting adalah bagaimana organisasi tersebut semakin kuat dalam memperjuangkan kepentingan petani.

Sebab, masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luasnya lahan dan besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan petani yang berpengetahuan, menguasai teknologi, memperoleh pendapatan yang layak dan mampu menarik generasi muda untuk melanjutkan profesi tersebut.

Dari Kota Batu, para penggawa KTNA Indonesia pun membawa satu harapan yang sama: pertanian Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi sektor yang modern, produktif dan semakin menyejahterakan petaninya.ota Batu, para penggawa KTNA Indonesia pun membawa satu harapan yang sama: pertanian Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi sektor yang modern, produktif dan semakin menyejahterakan petaninya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *