September 21, 2026
TRI WAHYUDI KTNA

PRIMENEWS | Batu : Ucapan selamat datang dari seorang sahabat lama. Begitulah Tri Wahyudi Saleh menyambut terpilihnya kembali HM Yadi Sofyan Noor sebagai Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional periode 2026–2031.

Sofyan kembali dipercaya memimpin KTNA Nasional secara aklamasi dalam Rembug Paripurna KTNA Nasional yang berlangsung di Royal Hotel dan Villa Batu, kota Batu, Jawa Timur, Minggu (20/9/2026).

Bagi Tri Wahyudi, terpilihnya kembali Sofyan bukan sekadar pergantian atau keberlanjutan kepemimpinan sebuah organisasi. Di baliknya terdapat harapan agar KTNA semakin kuat menjadi rumah besar para petani dan nelayan sekaligus mitra strategis dalam mendorong kemajuan pertanian Indonesia.

Ucapan selamat Tri itu mendapat sambutan hangat dari Sofyan. Ketua Umum KTNA terpilih tersebut secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Tri Wahyudi, yang disebutnya sebagai sahabat karib yang kepeduliannya terhadap KTNA dan para petani tidak pernah luntur.

“Pak Tri itu sahabat petani. Beliau menyatu dengan dunia pertanian,” kata Sofyan.

Menurut Sofyan, kedekatan Tri dengan dunia pertanian bukanlah sesuatu yang baru muncul ketika dirinya berkiprah di Pupuk Indonesia. Hubungan tersebut telah terbangun jauh sebelumnya, bahkan sejak masa pendidikan hingga perjalanan kariernya.

Tri tercatat menempuh pendidikan tingkat SLTA di Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP)–Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Negeri Yogyakarta dan lulus pada 1986. Sejak awal, ia memilih jalur pengabdian yang tidak jauh dari dunia pertanian, khususnya sektor pangan.

Selama lebih dari dua dekade, perjalanan profesional Tri bersentuhan langsung dengan sektor pangan, antara lain melalui kiprahnya di Perum BULOG, sebelum kemudian sekitar enam tahun terakhir berkiprah di Pupuk Indonesia.

Jejak panjang tersebut pula yang membuat Tri memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh dan pendahulu KTNA, antara lain mendiang H. Oyon Tahyan dan almarhum Winarno Tohir.

Hubungan seperti itu tidak lahir semata dari kepentingan pekerjaan. Ada persahabatan yang tumbuh karena kesamaan kepedulian terhadap petani dan masa depan pertanian Indonesia.

Kedekatan itu juga dirasakan para pengurus KTNA di daerah.
Ketua KTNA Jawa Barat Otong Suranta mengatakan, kolaborasi KTNA Jawa Barat dengan Tri Wahyudi telah berlangsung sejak Tri masih berkarier di BULOG hingga saat ini berada di Pupuk Indonesia.

“Beliau selalu memperhatikan kepentingan petani. Bagaimana hasil pertanian bisa dihargai dengan layak, sampai bagaimana sarana produksi dalam berbudidaya bisa tercukupi dengan baik,” kata Otong.

Menurut Otong, perhatian tersebut antara lain terlihat dalam upaya mendorong ketersediaan sarana produksi pertanian, termasuk pupuk, sehingga petani tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh kebutuhan budidayanya.

“Sehingga petani tidak merasa kesulitan memperoleh sarana produksi seperti pupuk dan lainnya. Menjual hasil panennya pun mudah,” ujarnya.
Kesaksian serupa disampaikan Wasekjen KTNA Nasional Zulharman Djusman. Ia menggambarkan hubungan KTNA dengan Tri Wahyudi bukan sekadar hubungan kerja antara organisasi petani dan perusahaan pupuk.

Menurut Zulharman, hubungan tersebut telah berkembang menjadi persahabatan yang jauh lebih panjang dan personal.

“Persahabatan KTNA dengan Pak Tri Wahyudi bukan hanya persahabatan dalam lingkup kerja sama bisnis. Lebih dari itu, persahabatan sebagai sahabat baik dalam membangun kemitraan maupun silaturahmi,” kata Zulharman.

Ia mengatakan, di kalangan petani dan pengurus KTNA, Tri bahkan lebih akrab dipanggil dengan sebutan sederhana: Pak Tri.

Panggilan itu, menurut Zulharman, mencerminkan kedekatan yang telah terbangun selama bertahun-tahun, khususnya melalui interaksi Tri dengan para petani di lapangan.

“Persahabatan ini bukan dihitung dari satu atau dua tahun. Sudah lama sekali beliau menjadi sahabat petani, terutama di lapangan,” ujarnya.
Zulharman juga menilai hubungan KTNA dan Pupuk Indonesia dalam kiprah Tri telah memberikan kontribusi dalam mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk dalam aspek distribusi pupuk bersubsidi dan peningkatan kesejahteraan petani.

Ia menyebut salahsatu perubahan yang dirasakan petani adalah kemudahan memperoleh pupuk dibandingkan dengan sistem sebelumnya.

“Hasil karya Pak Tri dan rekan dapat kita nikmati hingga sekarang. Teman-teman mendapatkan pupuk lebih mudah dan tidak berbelit-belit seperti dulu,” katanya.

Bagi KTNA, kemudahan memperoleh pupuk bukan persoalan administratif semata. Ketersediaan pupuk berkaitan langsung dengan kemampuan petani menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha taninya.

Namun, hubungan Tri dengan KTNA tidak berhenti pada persoalan pupuk.

Zulharman mengatakan, Tri juga memberikan perhatian terhadap berbagai kegiatan KTNA, termasuk pertemuan antarpelaku pertanian. Dukungan terhadap forum-forum tersebut dinilai membantu petani dari berbagai daerah bertemu, bertukar pengalaman dan mentransformasikan pengetahuan. Di sinilah persahabatan Tri dengan KTNA menemukan maknanya yang lebih luas.

Rembug petani bukan hanya tempat membicarakan organisasi. Ia menjadi ruang bertemunya pengalaman, pengetahuan dan persoalan nyata yang dihadapi petani dari berbagai penjuru Indonesia.

Bagi Tri Wahyudi, KTNA memiliki posisi penting karena organisasi tersebut tumbuh dari akar rumput. Petani dan nelayan membawa pengalaman langsung dari sawah, kebun, tambak dan laut yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku atau ruang rapat.

Petani mengetahui bagaimana perubahan cuaca memengaruhi produksi, bagaimana pupuk menentukan biaya usaha tani, bagaimana harga hasil panen bergerak, hingga bagaimana akses pasar menentukan keuntungan mereka.

Karena itu, suara petani menurut Tri penting menjadi bagian dari pembicaraan ketika bangsa ini merancang masa depan pertanian.
Indonesia memiliki modal alam yang besar. Tanah yang subur, iklim tropis, bentang wilayah yang luas serta kekayaan laut menjadi potensi besar bagi ketahanan pangan dan ekonomi nasional.

Namun potensi tersebut membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya, teknologi yang tepat guna, pembiayaan, kepastian pasar, sarana produksi dan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan di lapangan.

Di titik itulah kolaborasi menjadi penting. Petani memiliki pengalaman dan kekuatan produksi. Pemerintah memiliki kebijakan. Dunia usaha memiliki kemampuan bisnis. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian memiliki pengetahuan serta inovasi. Sementara perbankan memiliki instrumen pembiayaan.

Ketika seluruh kekuatan itu bertemu, rembug petani tidak lagi sekadar menjadi forum silaturahmi. Ia dapat menjadi ruang untuk mencari solusi bersama.

Dan bagi Tri Wahyudi, hubungan panjang dengan KTNA pada akhirnya bukan hanya tentang pupuk, pekerjaan atau kemitraan.
Ada sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih dalam: persahabatan dengan petani.

Persahabatan yang tumbuh sejak perjalanan pendidikan di sekolah pertanian, berlanjut dalam pengabdian di sektor pangan, bersentuhan dengan BULOG, kemudian berlanjut bersama Pupuk Indonesia dan terus terhubung dengan para petani serta keluarga besar KTNA di berbagai daerah.

Seperti dikatakan Zulharman, harapan para petani sederhana: agar Tri Wahyudi tetap menjadi “sahabat petani” yang sigap dan siap membantu dalam upaya menjaga kedaulatan pangan Indonesia.

Sementara bagi Tri, persahabatan itu seolah menemukan maknanya setiap kali para petani berkumpul dalam sebuah rembug.

Yang jauh didekatkan. Yang berbeda dipertemukan. Yang berat dicari jalan keluarnya bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *