Agustus 9, 2026
PESTA NIKAH

PRIMENEWS | Jakarta : Malam itu, Sabtu, 8 Agustus 2026, suasana Auditorium Kementerian Pertanian RI, Jalan Harsono RM No. 3, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dipenuhi kebahagiaan.

Keluarga, kerabat dan sahabat berdatangan. Senyum dan ucapan selamat mengalir. Di antara suasana bahagia itu, ada sepasang orangtua yang tengah mendampingi atau menyaksikan babak penting dalam kehidupan putri mereka.

Alfian Rusdi Hasibuan, S.E. dan Heny Kustyah melepas putri kedua mereka, Salsabila Tiani Putri Hasibuan, S.M., untuk menjalani kehidupan baru bersama lelaki pilihannya, Andryan.

Ada kebahagiaan malam itu. Tetapi ada pula rasa haru yang sulit disembunyikan.

Sebab, bagi kedua orangtua, sosok perempuan yang malam itu tampil sebagai mempelai adalah putri yang dahulu tumbuh dalam dekapan mereka.
Putri yang pernah ditimang.
Dijaga.
Dididik.
Disekolahkan.
Dan dibesarkan dengan doa.

Perjalanan panjang itu seakan menemukan kalimat yang tepat dalam sebuah falsafah Tapanuli Bagian Selatan:
“Magodang-odang accimun.”

Sejak lahir, seorang anak ditimang dengan penuh kasih sayang, dijaga dengan sepenuh hati, dibesarkan dengan doa, dididik dan disekolahkan dengan harapan agar kelak tumbuh menjadi manusia yang baik, berilmu, bermartabat, dan mampu menjalani kehidupan secara mandiri.

Dari Putri Kecil Menjadi Perempuan Dewasa

Waktu memang tidak pernah berhenti.
Salsabila yang dahulu merupakan putri kecil dalam dekapan ayah dan ibunya, perlahan tumbuh menjadi perempuan dewasa.

Setiap pertumbuhannya menjadi kebahagiaan.
Setiap langkahnya menjadi perhatian.
Dan setiap keberhasilannya menjadi kebanggaan.
Pendidikan telah ditempuh. Impian mulai dirajut. Hingga akhirnya, tibalah sebuah hari yang dinantikan keluarga: hari ketika sang putri memilih pasangan hidupnya.

Pada Jumat, 7 Agustus 2026, Salsabila resmi mengikat janji pernikahan dengan Andryan.

Akad nikah berlangsung di kediaman mempelai wanita, Jalan Kebagusan III Gang Perdamaian, RT 004/RW 006 Nomor 69, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Di hari itu, Alfian dan Heny menyaksikan putri yang selama ini mereka rawat dan besarkan memulai kehidupan baru.

Dalam adat Tapanuli Bagian Selatan, fase kehidupan tersebut memiliki makna tersendiri:
Lakka Matua Bulung.
Seperti daun yang telah tumbuh dari pohonnya.
Daun itu kemudian berkembang dan menemukan tempatnya sendiri. Ia tidak lagi berada dalam genggaman yang sama. Namun, dari mana pun ia tumbuh, akar yang dahulu memberinya kehidupan tetap ada.

Begitu pula seorang anak.
Ketika telah dewasa dan menikah, ia memang membangun rumahnya sendiri. Namun, kasih orang tua tidak pernah benar-benar terputus.

Bukan Kehilangan, Melainkan Kebanggaan
Di sinilah “Magodang-odang accimun” menemukan maknanya yang lebih dalam.
Seorang anak dibesarkan bukan untuk selamanya berada di sisi orangtua.
Ia dibesarkan agar suatu hari mampu berdiri sendiri, menentukan pilihan hidup, dan membangun keluarga bersama orang yang dicintainya.

Karena itu, ketika tiba saatnya melepas seorang putri, air mata bukan semata-mata tanda melepaskan.
Air mata adalah tanda cinta.
Kebahagiaan bercampur haru. Kebanggaan bertemu dengan kenangan.

Putri yang dahulu digendong dan ditimang, kini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang siap menapaki jalan kehidupannya sendiri.

Dan kepada Salsabila, ada satu pesan yang mungkin paling sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu dalam:
“Badan do padao-dao, molo tondi i marsigonggoman.”

Badan boleh berjauhan.
Langkah boleh berbeda tempat.
Rumah boleh berbeda.
Tetapi hati tetap dekat.
Tondi tetap marsigonggoman.
Hati tetap terikat.

Sebab bagi seorang ayah dan ibu, seorang anak tidak pernah benar-benar pergi. Sejauh apa pun langkahnya, namanya tetap tinggal di dalam doa.

Malam Ketika Kebahagiaan Dirayakan
Sehari setelah akad nikah, kebahagiaan keluarga besar Salsabila dan Andryan dilanjutkan melalui resepsi pernikahan pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, di Auditorium Kementerian Pertanian RI, Jalan Harsono RM No. 3, RT 5/RW 7, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Keluarga, kerabat dan sahabat berkumpul. Ucapan selamat dan doa mengiringi perjalanan kedua mempelai.
Di tengah suasana itu, terselip sebuah kisah panjang tentang kasih sayang orangtua.

Tentang seorang anak yang dahulu berada dalam dekapan.
Tentang pendidikan dan doa yang mengiringi pertumbuhannya.
Dan tentang sebuah keberanian untuk melepas ketika waktunya telah tiba.
Magodang-odang accimun.
Dibesarkan dengan cinta.
Dijaga dengan doa.
Dididik dengan harapan.

Dan akhirnya, dilepas dengan penuh kebanggaan.
Kini Salsabila dan Andryan memasuki perjalanan baru.
Semoga keduanya mampu saling menjaga, saling menghormati, saling menguatkan dalam suka maupun duka, serta menjadikan rumah tangga sebagai tempat tumbuhnya kasih sayang, ketenteraman dan keberkahan.

Semoga Allah SWT menjadikan keluarga Salsabila dan Andryan sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Mata Air Sosial Hamsir Siregar RCM: Mengalir dari Ketulusan, Bermuara pada Persaudaraan

Jakarta : Laksana mata air yang jernih dari sumbernya, mengalir dari kedalaman tanah dan memberi manfaat tanpa membedakan siapa yang datang mengambilnya. Begitulah filosofi mata air: bersih dalam sumbernya, jernih dalam alirannya, dan memberi manfaat bagi siapa saja yang berada di sekitarnya.

Dalam kehidupan sosial Hamsir Siregar RCM, filosofi itu menemukan maknanya. Persaudaraan, kepedulian, silaturahmi, dan kesediaan hadir ketika orang lain membutuhkan menjadi bagian dari cara ia merawat hubungan dengan sesama.

Sebagai tokoh sentral Parsadaan Padang Lawas Utara (ParPaluta), Hamsir menemukan pijakan sosialnya pada falsafah leluhur Tapanuli Bagian Selatan:
“Tangi di siluluton, itte di siroaon.” Peka ketika mendengar kabar duka, dan hadir ketika kerabat atau sahabat sedang merayakan kebahagiaan bilamana mendapat undangan.

Falsafah itu bukan sekadar warisan kata-kata. Ia hadir dalam tindakan dan menjadi bagian dari perjalanan sosial Hamsir, CEO Group Usaha RCM yang bergerak di bidang properti ini.

Pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026, misalnya, Hamsir hadir dalam resepsi pernikahan Salsabila Tiani Putri Hasibuan, S.M., dengan Andryan, putri kerabat sekaligus sahabatnya, Alfian Rusdi Hasibuan, di Auditorium Kementerian Pertanian RI, Ragunan, Jakarta Selatan.

Hubungan Hamsir dan Alfian sendiri bukan sekadar hubungan dalam struktur organisasi. Hamsir merupakan Ketua Umum ParPaluta, sementara Alfian dipercaya sebagai Ketua Umum Parpajul yang bernaung di bawah ParPaluta. Dari kebersamaan itu tumbuh persahabatan dan kedekatan batin dalam merawat kehidupan sosial masyarakat asal Padang Lawas Utara.

Ada nilai lain yang juga menjadi napas hubungan sosial mereka: “Molo pahae simanggurak, akkon pahulu do sitippulon. Molo ra iba manjagit na dilehen ni halak, akkon ra do iba paulakkon.”

Sebuah filosofi tentang kesediaan menerima sekaligus memberi kembali. Tentang kebaikan yang tidak berhenti pada satu arah, tetapi terus mengalir dan berputar menjadi kekuatan bersama.

Menerima dan memberi.
Saling membantu.
Saling menguatkan.
Saling membesarkan.

Di sanalah sosok Hamsir menemukan karakter sosialnya.
Seperti mata air, ia berusaha menjaga aliran persaudaraan itu tetap hidup. Ketika ada yang berduka, ia berupaya hadir. Ketika ada yang memiliki hajat, ia menyempatkan datang bilamana mendapat undangan. Ketika kerabat membutuhkan dukungan, ia berusaha memberikan perhatian.

Sebab persaudaraan, bagi Hamsir, bukan sekadar hubungan yang diucapkan. Ia adalah nilai yang perlu dirawat melalui tindakan dan kehadiran.

Mata air tidak pernah memilih siapa yang berhak menikmati airnya. Ia terus mengalir, memberikan kesejukan dan kehidupan di sepanjang jalannya.

Demikian pula kehidupan sosial yang dibangun Hamsir Siregar RCM.
Mengalir dari nilai leluhur.
Bersumber dari ketulusan.
Menghidupkan silaturahmi.
Menguatkan persaudaraan.

Dan seperti mata air yang semakin panjang alirannya semakin luas pula manfaatnya, perjalanan sosial Hamsir pun pada akhirnya bermuara pada satu nilai: menjadi manfaat bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *