PRIMENEWS | Jakarta : Laksana mata air yang jernih dari sumbernya, mengalir dari kedalaman tanah dan memberi manfaat tanpa membedakan siapa yang datang mengambilnya. Begitulah filosofi mata air: bersih dalam sumbernya, jernih dalam alirannya, dan memberi manfaat bagi siapa saja yang berada di sekitarnya.
Dalam kehidupan sosial Hamsir Siregar RCM, filosofi itu menemukan maknanya. Persaudaraan, kepedulian, silaturahmi, dan kesediaan hadir ketika orang lain membutuhkan menjadi bagian dari cara ia merawat hubungan dengan sesama.
Sebagai tokoh sentral Parsadaan Padang Lawas Utara (ParPaluta), Hamsir menemukan pijakan sosialnya pada falsafah leluhur Tapanuli Bagian Selatan:
“Tangi di siluluton, itte di siroaon.” Peka ketika mendengar kabar duka, dan hadir ketika kerabat atau sahabat sedang merayakan kebahagiaan bilamana mendapat undangan.
Falsafah itu bukan sekadar warisan kata-kata. Ia hadir dalam tindakan dan menjadi bagian dari perjalanan sosial Hamsir, CEO Group Usaha RCM yang bergerak di bidang properti ini.
Pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026, misalnya, Hamsir hadir dalam resepsi pernikahan Salsabila Tiani Putri Hasibuan, S.M., dengan Andryan, putri kerabat sekaligus sahabatnya, Alfian Rusdi Hasibuan, di Auditorium Kementerian Pertanian RI, Ragunan, Jakarta Selatan.
Hubungan Hamsir dan Alfian sendiri bukan sekadar hubungan dalam struktur organisasi. Hamsir merupakan Ketua Umum ParPaluta, sementara Alfian dipercaya sebagai Ketua Umum Parpajul yang bernaung di bawah ParPaluta. Dari kebersamaan itu tumbuh persahabatan dan kedekatan batin dalam merawat kehidupan sosial masyarakat asal Padang Lawas Utara.
Ada nilai lain yang juga menjadi napas hubungan sosial mereka: “Molo pahae simanggurak, akkon pahulu do sitippulon. Molo ra iba manjagit na dilehen ni halak, akkon ra do iba paulakkon.”
Sebuah filosofi tentang kesediaan menerima sekaligus memberi kembali. Tentang kebaikan yang tidak berhenti pada satu arah, tetapi terus mengalir dan berputar menjadi kekuatan bersama.
Menerima dan memberi.
Saling membantu.
Saling menguatkan.
Saling membesarkan.
Di sanalah sosok Hamsir menemukan karakter sosialnya.
Seperti mata air, ia berusaha menjaga aliran persaudaraan itu tetap hidup. Ketika ada yang berduka, ia berupaya hadir. Ketika ada yang memiliki hajat, ia menyempatkan datang bilamana mendapat undangan. Ketika kerabat membutuhkan dukungan, ia berusaha memberikan perhatian.
Sebab persaudaraan, bagi Hamsir, bukan sekadar hubungan yang diucapkan. Ia adalah nilai yang perlu dirawat melalui tindakan dan kehadiran.
Mata air tidak pernah memilih siapa yang berhak menikmati airnya. Ia terus mengalir, memberikan kesejukan dan kehidupan di sepanjang jalannya.
Demikian pula kehidupan sosial yang dibangun Hamsir Siregar RCM.
Mengalir dari nilai leluhur.
Bersumber dari ketulusan.
Menghidupkan silaturahmi.
Menguatkan persaudaraan.
Dan seperti mata air yang semakin panjang alirannya semakin luas pula manfaatnya, perjalanan sosial Hamsir pun pada akhirnya bermuara pada satu nilai: menjadi manfaat bagi sesama.
